hai teman ?
nama sayah Firman taufik inilah pengalaman saya selama di pondok Darussalam ciamis, jawa barat
Awal Masuk Pesantren
Selepas sekolah mts, atas dorongan orang tua saya memutuskan untuk meneruskan sekolah menengah dan lanjutan di salah satu pesantren di perbatasan kota ciamis pangandaran. Pesantren itu bernama DARUSSALAM CIAMIS. Pesantren Daarussalam tergolong modern, mengikuti kurikulum pesantren Daarussalam, Gontor, .
Di pesantren darussalam saya bertemu dengan teman-teman yang berasal dari banyak suku dan daerah, kebanyakan dari penjuru ciamis, Jakarta, Jawa Barat, majalengka, dan sedikit dari pulau-pulau lain.
Dalam keseharian,
Pengalaman menjadi santri
Banyak santri termasuk saya merasa hidup di pesantren sangat membosankan. Disiplin yg ketat amat menekan. Tetapi justru disiplin tersebut cukup efektif untuk melatih mental santri.
Rutinitas santri dimulai dari pagi buta sampai larut malam. Sholat selalu dilakukan berjamaah di masjid dan diakhiri dengan mengaji. Setiap selepas shubuh,kami pun melanjutkan dengan bersiap" untuk sekolah yang dimulai pukul tujuh.
Libur di hari minggu, setiap hari kami mendapat 5 mata pelajaran, dari jam tujuh sampai jam 2 siang. Setiap dua jam pelajaran diselingi istirahat limabelas menit, kecuali istriahat sholat dzuhur dan makan siang yang dilakukan dari jam duabelas hingga jam satu. Dari jam satu sampai jam tiga, kami belajar dua mata pelajaran.
Selepas sholat Ashar,kami pun melanjutkan nya dengan mengaji lagi k tempat pengajian kami masing "
Tetapi, adapula yg suka eskul .sepulang pengajian kami pun slalu langsung makan sore dengan teman teman, walau pun kami suka sedikit jenuh dengan keeadaan seperti ini tapi untungnya selalu dapat dihibur dengan keberadaan teman-teman 'senasib'. Kebersamaan dalam senang dan sedih dengan teman-teman menjadi hiburan sangat berharga, Masa sulit dan masa menyenangkan .
Masa-masa paling sulit bagi santri didapati di beberapa bulan pertama saat awal masuk pesantren (kelas satu MAN). Pada masa ini santri dituntut beradaptasi dengan lingkungan baru, dan melupakan segala kebiasaan di rumah sebelumnya. Kerinduan terhadap orang tua dan keluarga juga harus dilawan. Semua yang sebelumnya dilayani orang tua kini harus dilakukan sendiri. Untungnya, santri di pesantren ini tidak perlu memasak dan mencuci. Biasanya, setelah beberapa bulan santri akhirnya terbiasa dan melewati masa-masa sulit ini. Memang ada beberapa yang tidak tahan dan memilih keluar. Kalau dulu semasa di SD di kampung, masa yang paling menyenangkan kami sebagai anak-anak adalah hari raya lebaran, tetapi lebaran di pesantren (idul adha biasanya santri tidak liburan) bukanlah hari 'istimewa' yang ditunggu-tunggu. Masa yg istimewa dan penting yang ditungguitunggu tak lain adalah liburan sekolah untuk pulang ke rumah. Suasana libur sekolah meninggalkan pesantren yang menggembirakan bagi santri itu ibarat suasana bebas bagi narapidana yang diizinkan keluar dari penjara. Tentu saja karena rindu bertemu orang tua dan keluarga. Bosan dengan 'masakan massal' di pesantren, para santri sangat rindu dengan masakan rumah buatan ibu masing-masing.
Pelajaran Penting
Banyak pelajaran penting yang selama menjadi santri di jenjang MTS hingga MAN kami lalui sebagai santri. Kami diajarkan antara lain kemandirian, kebersamaan, kepememimpin, serta etika (akhlaq karimah, ...mungkin sekian dulu yah teman teman ku yg saya cintai salam viss (y)
pengalaman ku selama di pondok Darussalam
8:13 AM |
Read User's Comments(0)
Subscribe to:
Posts (Atom)






